Kamis, 03 Juli 2008

Panggilan Jiwa Ir Sanggam Hutapea MM, Mengentaskan 43 Persen Keluarga Miskin di Taput Posted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on Juni 7th, 2008

Panggilan Jiwa Ir Sanggam Hutapea MM, Mengentaskan 43 Persen Keluarga Miskin di Taput Posted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on Juni 7th, 2008
Tarutung, (SIB) Sungguh banyak tokoh masyarakat Batak di Jakarta dan sekitarnya, khususnya yang berasal dari Tapanuli Utara (Taput), terkejut mendengar kabar bahwa saat ini terdapat 43 persen rumahtangga miskin di daerah itu. Data tersebut merupakan angka resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006. Gambarannya, dari sepuluh rumah tangga di suatu desa berarti lebih empat rumahtangga keluarga miskin. Data ini sungguh menyayat dan memilukan hati. Salah satu faktor penyebab menurut analisa tim ahli kami dari Sanggam Hutapea Center adalah Indeks Nilai Tukar Petani di Taput terus merosot, ujar Ir Sanggam Hutapea MM dalam sebuah percakapan di Tarutung pekan lalu. Menurut Sanggam Hutapea, 88 persen lebih penduduk Taput menggantungkan hidup dari pertanian. Sehingga kalau produk atau hasil pertanian merosot, sudah barangtentu keluarga miskin bertambah. Data menunjukkan sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sebesar 50 persen. Tetapi berdasarkan data dan pengamatan di seluruh (15) kecamatan Taput sektor pertanian tidak tertangani dengan semestinya. Banyak masalah yang dihadapi petani saat ini, tetapi kelihatannya dibiarkan mereka (petani itu) yang menghadapi sendiri, ujarnya menjelaskan. Tentu saja, masyarakat petani tersebut semakin hari semakin tidak sejahtera. Mereka pun menjadi kelurga miskin, ujar alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini. Sebagai putra asal Taput apa yang Anda dapat lakukan untuk itu?, tanya wartawan. Sanggam Hutapea yang masa remajanya sejak SMP hingga SMA (tahun 1975-1979) dikenal sebagai bintang pelajar (teladan) di Tarutung menyebut memberi sumbang pikir membangun pertanian di Taput. Ia menguraikan tim ahli di Sanggam Hutapea Center saat ini terdapat 15 doktor (S3) dari berbagai disiplin ilmu, secara khusus di bidang pertanian, ekonomi kerakyatan hingga perbankan. Sejumlah diantara para pakar itu sudah terjun langsung ke Taput melakukan pengkajian sekaligus berbagi ilmu dengan rakyat, Data yang disuguhkan Sanggam Hutapea dalam kurun waktu dua bulan terakhir pakar kopi, coklat, karet, tanaman holtikultura dan pakar pemasaran hasil-hasil pertanian telah didatangkan ke Taput untuk membangkitkan pengetahuan dan menumbuhkan rasa percaya diri warga dan petani. Tercatat, Sanggam Hutapea Center secara bergiliran telah memboyong DR Sabam Malau pakar tanaman karet, DR.Ir.Mangasi Panjaitan ahli pemasaran produk pertanian, Ir.Trihartomo MSc dan Ir.Bastian Sitompul pakar tanaman coklat, DR.Ir.Mohammad Husain ahli tanaman kopi dan hama/penyakit tanaman, dari Jember Jawa Timur. Mereka tidak sekadar talkshow atau pembicara formal tetapi benar-benar diterjunkan ke lapangan berbaur dengan petani dan melakukan survey, analisa, kajian sekaligus mendemonstrasikan teknologi pertanian. Seperti yang dilakukan Trihartomo ahli tanaman coklat sudah membantu masyarakat di kawasan Pahae meliputi Kecamatan Pahae Julu, Pahae Jae, Simangumban dan Purba Tua. Sementara DR.Mohammad Husein berbaur dengan petani kopi di Pangaribuan, Sipahutar, Siborong-borong, Sipoholon, Buanuaji Adiankoting. Khusus Mohammad Husain pakar dari Universitas Jember itu, pekan ini kembali didatangkan ke Taput atas permintaan masyarakat. Sebab saat ini tanaman kopi banyak terserang hama atau penyakit. Menurut Sanggam Hutapea selama 10 hari lagi Mohammad Husain berada di Taput. Sanggam menegaskan kehadiran pakar dari berbagai disiplin ilmu tersebut diharapkan dapat membantu mencerahkan kehidupan petani. Sangat Antusias Kehadiran para pakar pertanian ke Taput ternyata disambut hangat masyarakat. Hal itu terekam dalam talkshow dan dialog interaktif dengan Mohammad Husain melalui salah satu stasiun radio di Tarutung. Masyarakat sangat antusias menanyakan melalui saluran telepon tentang hama penyakit yang melanda kebun kopinya. Demikian juga ketika Sanggam Hutapea diundang untuk dialog interaktif oleh radio yang sama. Banyak dukungan dan pujian kepadanya atas inisiatifnya mendatangkan para pakar membantu masyarakat. Ketika wartawan menanyakan hal itu kepada lulusan pasca sarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini hanya menjawab singkat sebagai panggilan jiwa seorang putra Taput. Untuk membangun sebuah daerah dibutuhkan ahli yang benar-benar menguasai bidangnya. Masyarakat Taput adalah pekerja keras hanya saja mereka tidak mendapat hasil yang maksimal atas pekerjaannya. Jangan sampai “amang-dainang dohot hahanggingku” (orang-tua dan saudaraku) berputus asa. Mereka butuh motivator dan itulah yang saya lakukan, ujar Sanggam Hutapea. Lebih lanjut dikatakan, persoalan lain masih banyak yang hendak ditata ulang terutama menyangkut peningkatan kesejahteraan masyarakat Tapanuli Utara. Apa saja yang dapat kita lakukan dalam waktu cepat memotivasi dan membantu mereka harus dioptimalkan. Penanggulangan hama dan penyakit tanaman, bibit unggul hingga penataan pemasaran setiap komoditas. Saya tidak sabar melihat kondisi petani berhadapan dengan berbagai permasalahan seperti ini. Karenanya, siapapun yang berkenan berpartisipasi sungguh sangat baik. Silahkan. Mari kita saling bahu membahu. Jangan dipikir saya gagah-gagahan dengan membawa mereka ke Taput.,ujar Sanggam Hutapea. Terkait dengan upaya meningkatkan pengetahuan petani di Taput, Sanggam Hutapea Center juga memberangkatkan utusan 15 kecamatan pelatihan pertanian tanaman semusim ke Balai Holtikultura di Berastagi Tanah Karo pada hari Sabtu, 7 Juni 2008. Langkah Sanggam tidak sampai di situ. Dia juga berjanji memboyong pulang DR Martin Panggabean seorang ahli moneter, pemikir di Bank Mandiri ke Bonapasogit. Juga DR T Sipayung dan DR Krisna Wijaya (mantan Dirut BRI). Atas dasar kepedulian terhadap Taput, mereka telah menyatakan kesediaan. Saya sangat salut dan bangga. Dalam aktivitas keseharian yang sangat padat mereka masih mau membantu kita, sebut Sanggam Hutapea. (Rel/c)

1 komentar:

joko siahaan mengatakan...

Bersikap bahu-membahu menghidari pengotakan kepentingan, untuk mencapai tujuan yang sama mengentaskan kemiskinan. 43% itu harus diikut sertakan dalam meningkatkan ertumbuhan ekonomi. Saya mendukung Pak Sanggam!