Sektor Pertanian Masih Terpinggirkan, Petani Di Taput Makin Miskin
12 Juni 2008 | 11:13 WIB
Jakarta ( Berita ) : Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian sebagian besar masyarakat di Tapanuli Utara (Taput), ternyata masih merupakan sektor yang teringgirkan.
Kebijakan-kebijakan yang diterapkan pemerintah, tidak menjadikan sektor pertanian sebagai subyek, tapi lebih menjadikannya sebagai suatu obyek yang potensinya hanya untuk mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Pada hal 89 persen kepala keluarga (KK) di daerah itu adalah petani.
Akibat kebijakan yang belum memihak kepada petani, nasib pertanian di Taput dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang drastis, bahkan membuat petani makin miskin. Tercatat hingga tahun 2006 sesuai dengan data yang diperoleh menyebutkan 43 persen KK miskin tersebar di 15 kecamatan.
Keterpurukan pertanian di Taput, juga membuat tingkat pertumbuhan ekonomi dalam 3 tahun terakhir ini berada jauh dibawah tingkat pertumbuhan secara nasional. “Jika sektor pertanian selama ini mendapatkan perhatian yang cukup, tentu tingkat kemiskinan di Taput tidak akan mencapai 40 persen,” ujar pengamat ekonomi Ir Sanggam Hutapea, MM, memaparkan temuannya dari kunjungannya beberapa hari ke Taput, kepada pers di Jakarta, Rabu (11/6).
Sanggam sangat memprihatinkan sektor pertanian di Taput, padahal ketergantungan hidup masyarakat Taput dari sektor pertanian cukup besar.
Kehidupan petani seharusnya tidak masuk katagori miskin, sebab kerja kerja petani memenuhi kebutuhan ratus juta lebih penduduk Indonesia. Kenyataannya, kita belum mampu menghargai jerih payah petani dengan menetapkan keberpihakan kebijakan yang lebih menguntungkan. Ironisnya, upaya meningkatkan harkat dan martabat para petani hanya sebatas janji kampanye yang didendangkan saat para calon pemimpin membutuhkan suara petani.
Menurut Sanggam, nasib petani di Taput sungguh dilematis. Di satu sisi, petani dituntut meningkatkan produksi dan kualitas, di sisi lain hasil dari pertanian mereka belum jaminan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Ketertinggalan petani di Taput menurut alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini disebabkan faktor, minimnya pengetahuan petani, kurangnya pembinaan secara kontinyu yang menyebabkan sistem usahatani jauh dari pola agribisni, sulitnya memperoleh bibit unggul, terbatasnya sarana dan prasarana seperti jaringan irigasi teknis, mahalnya pupuk dan pestisida.
Kerja kerja petani menanam dan memanen Padinya tetap saja sekadar memenuhi kebutuhan keluarga dan selalu menjadi korban para tengkulak. Di saat panen terutama komoditi padi, para tengkulak seringkali membuat harga melorot tajam bahkan di bawah harga yang ditetapkan pemerintah. Sementara Koperasi Unit Desa (KUD) atau BULOG seperti tak mampu berbuat banyak.
Walaupun terus mengalami penurunan, namun Sanggam yakin pembangunan sistem dan usaha sektor pertanian sebagai pendekatan yang paling tepat bagi pembangunan ekonomi masyarakat Taput.
“Peranan sektor pertanian akan mampu mengakomodasi tuntutan agar perekonomian masyarakat Taput tumbuh dan sekaligus memenuhi prinsip kerakyatan, keberlanjutan, dan pemerataan baik antar individu maupun antar wilayah dan daerah, “tukas Sanggam.
0 komentar:
Poskan Komentar