Saatnya Menentukan Arah Kebangkitan Nasional
3 Juni 2008 | 09:54 WIB
Jakarta ( Berita ) : Satu abad hari kebangkitan nasional adalah moment yang sangat penting bagi negara dan bangsa ini untuk menentukan arah kebangkitan nasional itu.
Kita tidak boleh apatis dan berdiam diri, sebab ditangan kita terletak beban yang berat untuk menetukan arah kebangkitan nasional ditengah krisis ekonomi. Kita tidak harus menentukan arah negeri ini agar maju, mandiri, dan sejahtera,ujar pengamat ekonomi Sanggam Hutapea, Senin [02/06] di Jakarta.
Menurutnya, negeri ini ibat kapal yang sedang berlayar di lautan samudra, kemana arah kapal itu tentu dikendalikan nahkodanya, dan bukan berharap dari hembusan angin, sehingga tidak ada rah yang jelas untuk berlabuh.
Jadi Negeri ini harus kita nahkodai dengan penuh semangat dan optimis, walaupun dalam keadaan yang sulit. Jangan biarkan negeri initerombang-ambing tanpa tujuan.
Untuk itu, kata Sanggam Hutapea , seluruh elemen masyarakat harus merefleksikan cita-cita kebangkitan nasional yang sudah ditanamakan para pendiri negeri ini. Dengan kerja keras, berdisiplin dan menanamkan budaya malu untuk melakukan korupsi serta KKN, Indonesia akan mempunyai arah dan karakter, kata Sanggam Hutapea.
Disamping itu, potensinya sumberdaya alam, sumberdaya manusia, harus terus dipotensikan untuk kepentingan nasional. Dan yang terpenting masalah pendidikan harus diprioritaskan dan bukan lagi hanya lips service, yang nantinya dipergunakan para elit politik berkampanye guna meninabobokan masyarakat. Menurutnya, pemerintah sudah saatnya memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang menetapkan 20% anggaran belanja negara dan daerah dialokasikan untuk pendidikan.
Pendidikan yang tidak terformat, ujar Sanggam Hutape, menjadi dominan bersamaan dengan ketiadaan arah dan karakter yang menyebabkan kemajuan Indonesia seperti deret hitung.
Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa membuktikan bahwa bangsa yang maju, modern, dan sejahtera memiliki sistem dan praktik pendidikan yang bermutu, ujar Sanggam Hutapea. (aya) .
Rabu, 04 Juni 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar