Senin, 23 Juni 2008

Mengatasi Kemiskinan di Tapanuli Utara

Mengatasi Kemiskinan di Tapanuli Utara

Tapanuli Incorporated

Indikator-indikator di Taput beberapa tahun terahir menunjukkan angka-angka yang kurang menggembirakan. Sebagai contoh, pertumbuhan perekonomian Taput yang hanya bergerak dari empat sampai 5,5 persen setiap tahunnya. Sementara, pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi nasional itu sekitar 6,1 sampai 6,8 persen. Perbandingan ini meletakkan Taput di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Inkam perkapita di Taput lebih kecil dari nasional. ”Artinya, kesejahteraan di Taput lebih rendah dibandingkan tingkat kesejahteraan nasional,” papar Ir Sanggam Hutapea MM kepada SUARA HKBP. Apa yang ditawarkan Sanggam Hutapea untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tapanuli Utara (Taput). Berikut perbincangan kami, baru-baru ini di bilangan Senayan, Jakarta.

Dari data-data yang Anda sampaikan, apa yang harus diperhatikan?

Ada yang sangat menggelisahkan. Sektor pertanian di Taput menunjukkan angka-angka yang memprihatinkan. Pertumbuhan sektor pertanian di Taput hanya sekitar empat sampai 4,5 persen. Dibandingan dengan pertumbuhan perekonomian Taput pun, sektor ini sudah berada di bawah, apalagi dibandingkan dengan pertumbuhan perekonomian nasional.

Kenapa hal itu sangat menggelisahkan?

Karena 89 persen penduduk Taput sangat bergantung pada sektor pertanian! Artinya para petani di Taput selama beberapa waktu ini, semakin tidak sejahtera. Saya harus sampaikan ini. Dari angka-angka resmi yang dipublikasikan melalui BPS, petani yang tidak sejahtera akhir-akhir ini adalah petani sawah. Yang kedua, petani tanaman perkebunan rakyat.

Mengapa pertanian menjadi titik tolaknya?

Anda sudah bisa bayangkan, apa yang sedang terjadi di pertanian Taput. Kenapa kita harus berbicara tentang pertanian sebagai titik tolaknya? Karena inilah sektor yang paling utama di Taput. 59 persen sumbangan pertanian ke Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Nah, kalau sektor ini tidak tertangani dengan baik, maka bisa kita pastikan bahwa mayoritas penduduk Taput tidak tertangani dengan baik. Ini masalah yang sebenarnya!

Bagaimana pengamatan di lapangan?

Ada beberapa masalah yang terjadi sektor pertanian di Taput. Menurut hasil pengamatan di lapangan, di sisi produksi, mereka tetap menjadi petani tradisional. Belum ada tangan-tangan yang membantu mereka untuk melakukan inovasi-inovasi. Sebagai contoh, ketika saya pergi ke Pagaran, kecamatan di Taput, kawasan ini adalah kawasan penghasil kopi. Boleh dikatakan 80 persen penduduknya menggantungkan hidup pada tanaman kopi.

Mereka berjuang sendiri tanpa ada bimbingan dari mana pun. Ini terlihat dari teknologi produksi mereka yang masih sangat sederhana. Contoh, jarak tanaman kopi satu sampai 1,5 meter, yang idealnya dua sampai 2,5 meter. Kemudian, ketika mereka terkena serangan hama dan penyakit, mereka sendirian dan tidak tahu harus ke mana mengadu. Jika Anda pergi ke Pagaran sana, dan berbicara mengenai tanaman kopi, mereka mengeluh, ke mana saya harus mengadu, siapa yang mau membimbing kami.

Bagaimana dengan yang lainnya?

Nah, hal seperti itu juga kita temukan di jenis-jenis tanaman lain. Di beberapa kawasan yang saya temui, tanaman padi sawah salah satu yang mereka keluhkan. Mereka sangat tergantung pada air. Tetapi saluran air di persawahan mereka kurang berfungsi dengan baik. Atau dapat dikatakan di sebagian tempat sudah rusak. Hal-hal seperti itu mereka hadapi sendiri. Tidak ada tangan yang menolong mereka, demikian juga jenis-jenis tanaman lain.

Selain pengamatan pada aspek produksi, bagaimana dengan sisi pemasaran?

Mereka juga menghadapi berbagai masalah! Antara lain, menghadapi pasar yang oligopolistik. Keadaan ini membuat penjual tidak punya bargaining position (kedudukan penawaran-red). Yang punya bargaining position adalah pembeli! Dengan demikian kita bisa bayangkan bahwa harga itu akan sangat ditentukan oleh pihak-pihak lain tanpa ada bargaining position dari petani.

Nah, kita sudah berbicara mengenai aspek produksi dan aspek pemasaran. Artinya, keadaan-keadaan seperti ini akan menjadi terstruktur jika tidak ada yang memberikan perhatian kepada mereka. Sebenarnya bimbingan teknis kepada petani dan melalui pengenalan berbagai inovasi akan memperkuat struktur produksi mereka. Kemudian di aspek pemasaran kita bisa bantu mereka melalui pemotongan mata rantai pemasaran, sehingga bargaining position mereka menjadi lebih kuat. Harga-harga yang ditawarkan akan lebih mereka nikmati. Secara keseluruhan, dari sektor pertanian inilah permasalahan yang dihadapi petani di Taput.

Jadi pertanianlah yang menjadi perhatian utama?

Bagi saya, kalau 89 persen rakyat di sana menggantungkan hidupnya ke pertanian, maka perhatian utama kita harus ke sektor pertanian. Inilah yang menyangkut hajat hidup mayoritas penduduk di sana. Kenapa demikian? Karena akan ber-multiplayer efek pada kemampuan atau akses mereka ke sektor pendidikan dan ke sektor kesehatan. Bagaimana kita mau mendorong pendidikan yang baik kalau perut mereka lapar, kalau mereka tidak mampu menyekolahkan anaknya, tidak mampu membeli sepatu anaknya! Jadi kita juga akan melihat pengaruhnya ke sektor pendidikan, kesehatan dan bahkan sektor-sektor lain.

Sebagai putra daerah, Anda bersedia memberikan solusi bagi hal tersebut?

Kita sudah melakukan terobosan-terobosan mengenai hal ini di Taput. Kita telah mengirimkan 25 orang petani dari seluruh kecamatan di Taput ke Brastagi selama satu minggu. Yang kedua, kita telah memberikan contoh bagaimana membantu petani menghadapi permasalahan-permasalahan teknis budidaya. Menurunkan beberapa ahli bergelar akademis magister dan doktor ke Taput untuk melihat permasalahan di sana. Secara langsung berdialog dengan masyarakat. Mereka memberikan contoh-contoh kepada masyarakat, bagaimana mengatasi permasalahan di sana. Saya kira sesulit apapun masalah dapat diatasi, karena kita diberikan Tuhan kemampuan berpikir dan ketulusan hati.

Bagaimana penangannanya?

Ada dua sisi yang terdekat yang perlu kita tangani. Pertama adalah sisi produksi. Produksi ini menyangkut bagaimana mengatasi hambatan yang mereka hadapi sekarang, termasuk membimbing mereka dalam teknis budidaya. Selain itu, serangan hama yang mereka alami sekarang, harus dibantu penanganannya. Yang kedua adalah aspek pemasaran. Kita berencana mendirikan sebuah lembaga, kira-kira namanya Tapanuli Incorporated. Jadi kita harus memandu mereka pada dua sisi, sisi produksi dan sisi pemasaran.

Bisa dijelaskan tentang Tapanuli Incorporated itu?

Nah, lembaga ini akan membantu pemasaran hasil-hasil petani di Taput. Hal seperti ini sudah dilakukan berbagai kabupaten di Indonesia, bahkan berbagai propinsi. Sebagai contoh, Gubernur Gorontalo telah melakukan ini dan ternyata berhasil.

Mekanismenya kira-kira seperti ini, Tapanuli Incorporated inilah yang akan membeli produksi petani, karet dan hasil-hasil pertanian di Taput. Kemudian akan menjual komoditi itu ke pasar komoditi. Dengan Tapanuli Incorporated yang berhadapan langsung dengan pasar, maka bargaining position-nya menjadi lebih tinggi karena bisa masuk ke pasar yang lebih luas.

Artinya Tapanuli Incorporated akan membeli dari petani dengan harga yang lebih baik, karena dia mampu menjual lebih baik, sehingga harga-harga yang dinikmati petani menjadi lebih tinggi! Inilah salah satu fungsi dari Tapanuli Incorporated.

Berarti Anda siap mensejahterakan para petani di Taput?

Ya! Upaya kita adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Taput. Tadi saya perlihatkan angka-angka yang sangat memprihatinakan. Cara utama untuk mengurangi angka-angka yang memprihatinkan ini adalah memperbaiki sektor pertanian. Pertanian sebagai sektor utama inilah yang kita angkat dulu, disusul dengan sektor lainnya, seperti industri kecil. Paralel atau pada saat yang sama dapat kita benahi. Saya sangat menaruh harapan bahwa kesejahteraan masyarakat Taput dapat terangkat.

Kenapa Anda begitu mencintai Taput?

Jangan lupa saya ini anak Taput! Saya lahir dan dibesarkan di sana. Kalaupun saat ini, di tano parserahan bisa hidup lebih layak, sejarahnya dimulai dari Taput. Dengan demikian, kecintaan saya pada Taput tidak perlu dipertanyakan lagi!

Kalau berpikir hanya untuk pribadi, barangkali kita tidak perlu terlalu banyak memberikan perhatian pada Taput. Tetapi atas dasar cinta kepada kampung halaman yang bernama Taput itu, maka kita bersedia melakukan banyak hal di sana. Bahkan kita sedang berpikir, apakah dimungkinkan kita yang menjadi pengambil keputusan di Taput? Kalau peluang itu dimungkinkan saya siap membangun Taput.

Ada pesan bagi masyarakat Taput?

Situasi belakangan ini, dimana kenaikan harga BBM demikian terasa sehingga perekonomian secara keseluruhan agak bergejolak. Saya membayangkan saudara-saudara saya yang ada di Taput, tingkat kesulitannya pasti meningkat. Saya hanya ingin mengatakan, bersabarlah dan kita harus tetap berjuang. Jangan pernah menyerah, karena bagaimanapun, badai pasti berlalu. (pha)

0 komentar: