Rabu, 11 Juni 2008

Ir. Sanggam Hutapea MM Berangkatkan 25 Petani ke Brastagi

Tahun 2005-2006, Petani Taput Bertambah Miskin

Ir. Sanggam Hutapea MM Berangkatkan 25 Petani ke Brastagi

Tarutung,Metro

Calon Kandidat Bupati Tapanuli Utara Ir Sanggam Hutapea MM Sabtu ( 7/6) memberangkatkan 25 petani ke Brastagi Kabupaten Karo untuk mengikuti pelatihan pertanian khusus tanaman holtikultura. Peserta pelatihan yang berasal dari 15 kecamatan itu akan mengikuti pelatihan dan bimbingan selama 5 hari.

Ke 25 petani dilepas dari Kantor Sanggam Hutapea Center (SHC) di Jalan Sisingamangraja Tarutung ditandai penyematan tanda peserta. Langkah ini menurut Sanggam merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dibidang pertanian, khususnya tanaman holtikultura.”Kita memilih holtikultura supaya ada diversifikasi.Saya tidak pernah memilih anda, konsekuensinya anda harus bisa membagikan ilmu kepada orang lain, sebab kalau bukan kalian yang membenahi, siapa lagi”, ujarnya memberikan motivasi kepada peserta pelatihan.

Tingginya tingkat kemiskinan di Tapanuli Utara (Taput) menurut Sanggam sangat memprihatinkan.Padahal dengan lahan yang begitu subur dimana sebesar 89,5 dari jumlah Rumah Tangga di Taput adalah petani merupakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi.”Kita tidak mencari siapa yang salah , tetapi inilah pekerjaan kita yang sangat besar ke depan, ”, kata Sanggam.

Selain itu pemberangkatan petani ke Tanah Karo, Sanggam Hutapea juga melakukan pertemuan dengan masyarakat di kawasan Saitnihuta, Minggu ( 8/6) dengan topik masalah pertanian.Secara spontan masyarakat mendesak Sanggam Hutapea agar maju bertarung dalam pilkada Bupati/Wakil Bupati periode 2009-2014 yang dilaksanakan Oktober mendatang. Pada hari yang sama, di kecamatan Parmonangan, Sanggam Hutapea juga disambut ratusan penduduk, setelah sebelumnya mengikuti kebaktian di salah satu gereja di kawasan ini.

Malam harinya, Sanggam Hutapea juga melakukan pertemuan dengan simpatisan di Desa Sitompul Kecamatan Siatas Barita. Banyak yang dibahas, terutama menyangkut perbaikan daerah ini ke arah yang lebih maju.Secara marathon, ayah dari satu putra ini mengakomodir berbagai usulan yang disampaikan masyarakat.Sementara di tempat penginapannya di salah satu Hotel di Kota Tarutung, jebolan dari Institut Pertanian Bogor (IPB} dan Universitas Gajah Mada (UGM) ini hingga larut malam masih menerima tamu tamu dari berbagai gugus masyarakat dari beberapa kecamatan di Taput.

”Tujuan nya beragam, ada yang meminta saya mengunjungi desa mereka, ada yang berdiskusi, memberi motivasi dan dukungan. Selain itu, bahkan ada kendala dimana kita diminta untuk membantu terutama dalam masalah ekonomi dan pertanian.”Saya tidak merasa letih,saya ingin menyerap dengan telinga dan hati saya , apa sebenarnya yang terjadi di Taput. Malah saya salut dengan kehadiran mereka, sebab banyak informasi konstruktif dan masukan yang berharga, semua itu bermuara bagaimana kita membangun daerah ini nantinya,terutama dalam melakukan perbaikan perbaikan” ujarnya kepada Metro.

Semakin Tidak Sejahtera

Sanggam Hutapea yang didampingi Dr Ir Muhammad Husein, ahli tanaman kopi dan Ir M Munthe, ahli tanaman karet menyebut, dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di Taput lebih kecil dari rata rata pertumbuhan ekonomi nasional.Pertumbuhan ekonomi nasional saat ini 6 persen, sementara di Taput sekitar 5,2 s/d 5,6 persen, sangat memprihatinkan, sebutanya.Dikaitkan dengan mayoritas penduduk Taput adalah petani, Sanggam menyebut pertumbuhan sektor pertanian hanya sekitar 4,4 persen dibanding pertumbuhan ekonomi lainya di Taput.

Dengan kegelisahan dan keprihatinan ini, hasil temuan yang dilakukan pihaknya di lapangan menujukkan bahwa petani sangat minim memperoleh bimbingan, dan sangat sedikit inovasi.Kemudian dari laporan masyarakat, ketika terjadi serangan hama dan penyakit , kesulitan untuk mengadu bahkan sangat sempit ruang untuk mengadukan nasib mereka.

Sesuai data resmi pemerintah, tandas Ir Sanggam Hutapea, jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) di Taput saat ini mencapai 56.000.Dari angka tersebut, 24.000 rumah tangga miskin tadi adalah petani. “Walapun pahit, kenyataan inilah yang menjadi kegelisahan saya untuk mengupayakan agar daerah ini dapat keluar dari balutan kemiskinan, terutama menggenjot sektor pertanian dan usaha kecil . Ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam strategi pembangunan yaitu alam, manusia, dan teknologi, ketiganya saling berkaitan,” kata Sanggam Hutapea.

Dikatakan, walapun tanah didaerah ini cukup subur untuk pertanian, akan tetapi jika tidak didukung sumberberdaya manusia yang memiliki kemampuan tetap saja tidak akan menciptakan perubahan. “Demikian juga teknologi, tidak ada gunanya anda memiliki berbagai teknologi tanpa diikuti oleh kemampuan dan pemahaman tentang pengolahan pertanian,” tambahnya.

Dia juga menambahkan melihat kondisi pertanian di daerah yang pernah dijuluki”peta kemiskinan” telah terjadi banyak penurunan. Sebab dari data yang dikumpulkan oleh Sanggam Hutapea Center menyebutkan bahwa dari 2004 hingga sekarang belum ada perubahan pada petani yang ada di Taput. “Bahkan yang terjadi saat ini adalah penurunan dan petani semakin banyak yang tidak sejahtera. Jumlah masyarakat miskin kita masih banyak ditambah belum maksimalnya motifasi untuk memajukan ,” ungkapnya.

Analisis dari indeks nilai tukar yang dihasilkan petani di Taput menurut Sanggam Hutapea masih sangat memprihatinkan. Misalnya, masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian pada Tahun 2004 masih mampu menghasilkan nilai 100 dari hasil pertanian, pada tahun 2005 hingga 2006 justru dibawah nilai 100. Indeks petani yang mengusahakan kopi, karet,kemenyaan indeksnya turun, artinya kelompok petani dari Tahun 2004, tambah tidak sejahtera.Hanya saja, kelompok kecil petani yang menikmati hanya petani syur-syuran dan buah buahan.

Kondisi ini secara agregat menunjukkan jumlah yang dihasilkan petani lebih kecil dari yang dia keluarkan. Seiring dengan itu, angka kemiskinan pun semakin bertambah, disamping pelaku pelaku UMKM yang belum sepenuh hati didorong oleh pemerintah,” ujarnya.

Dalam acara pelepasan pendidikan dan pelatihan petani hotlikultura tersebut, Sanggam Hutapea mengharapkan agar peserta dapat membantu para petani lain untuk lebih memahami cara bercocok tanam yang benar. “Ini merupakan program pertama dan masih diupayakan ke depan untuk memberikan kesempatan kepada petani lain mengikuti pelatihan ,” tukasnya.

Bonar Lumban Tobing mewakili masyarakat yang hadir, mengatakan bahwa pelatihan kiranya dimamfaatkan dengan baik oleh peserta dan ilmu yang diperolah di Brastagi dapat ditularkan ke petani lain di Taput. ”Pemberian pelatihan untuk masyarakat merupakan salah satu cara untuk mencapai sebuah kemajuan dibidang pertanian, barangkali calon pemimpin juga dapat melakukan itu,” ujarnya.

Sementara itu Maruhum Lumbantobing, pengetua dari daerah Simaungmaung Kecamatan Tarutung mengatakan saat ini masyarakat masih cenderung dalam pola pertanian tradisionil. Maka upaya yang dilakukan Sanggam Hutapea dengan memberangkatakn petani ke Brastagi sudah sangat tepat . ”Ada tiga kesan yang saya lihat dari gebarakan dia untuk merubah daerah ini ke arah yang lebih maju yaitu Arga do Bona Ni Pinasa, Marsipature Hutanabe dan Panggilan Jiwa dari diri Sanggam Hutapea. Langkah ini sangat pantas diapresiasi dan didukung,sebab menghargai setiap upaya dan waktu untuk mencapai perubahan yang dilakukan setiap putra daerah adalah hal yang sangat bagus, apalagi masyarakat di Taput semakin hari semakin tidak sejahtera, ” tandasnya. (jps).

Tarutung, 11 Juni 2008

Jan Pieter Simorangkir

0 komentar: