Rabu, 11 Juni 2008

Ir. Sanggam Hutapea MM Bantu Korban Bencana

Pasca Gempa Bumi di Pahae

Mereka Masih Belajar Di Tenda Darurat

Ir. Sanggam Hutapea MM Bantu Korban Bencana

Tarutung,Metro

Pelajar SD Negeri 174574 Simangumban,Kecamatan Simangumban masih belajar dibawah tenda darurat bantuan UNHCR. Diwaktu siang saat terik matahari menyengat, rombongan belajar tak mampu menahan panas, sebab tenda berukuran 3 x 6 meter hanya cukup menampung 15 orang, tetapi jumlah pelajar melebihi kapasitas, dengan pentilasi udara yang tidak memadai. Saat hujan turun, mereka bakalan tidak nyaman, sang guru pun harus mengajar dari luar tenda.

Hingga Selasa ( 27/5) pelajar dengan enam rombongan kelas belajar masih bertahan di lokasi di tenda yang didirikan dekat bangunan sekolah yang runtuh. Guru yang mengajar kalau hujan tepaksa berlindung dibawah payung, sementara papan tulis pun tidak dapat dipajang di depan tenda,akibat pendeknya banguna tenda dan sempitnya pintu tenda.

Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar, jika tidak cepat ditangani. Sementara para guru guru menyebutkan, tak mau kondisi ini berkepanjangan. ”Belum ada relokasi yang dibuat pemerintah atau untuk mengganti tenda yang lebih luas dan nyaman”, ujar seorang guru yang tak mau disebut namanya.”Jangan dibuat nama saya pak, saya takut, nanti ditegur atasan”, ujarnya polos.

Derita Guru dan Murid

“Mohon pak, kami diperhatikan beserta murid murid ini, ujar seorang guru kepada Ir Sanggam Hutapea beserta rombongan saat meninjau sekolah tersebut.Sekolah inipun terlihat tidak seperti biasanya. Metro menangkap, pelajar yang sedang istrahat (reses) pun sebahagian besar terlihat merenung dan tak bersemangat.Tanah tanah liat juga menempel di sepatu para siswa yang masih berusia belia.

Dalam pertemuan itu, dua orang guru yang bestatus guru bantu juga menangis kepada Ir Sanggam Hutapea dan mengadukan nasibnya, sebab sudah lima bulan tidak gajian. Dua ibu guru yang mengaku mengabdi selama tiga tahun selaku guru honor, menjelaskan penderitaan yang mereka hadapi saat ini, gaji yang tak seberapa, namun belum turun hingga sekarang , apalah biaya hidup anak anak dan transport kami pak,” ujarnya kepada Sanggam Hutapea sambil mengusap air matanya.

Prihatin dengan itu, Sanggam Hutapea memberikan donasinya kepada kedua guru bantu tersebut. Sanggam sendiri tidak mau memberitahukan besarnya sumbangan itu, tetapi kepada wartawan ,keduanya mengaku bahwa yang diberikan Sanggam setidaknya cukup membantu mereka untuk keluar dari permasalahan itu.

Bangunan Permanen tidak Cocok di Pahae

Ir Sanggam Hutapea kepada Metro mengatakan bangunan permanen di Kawasan Pahae tidak begitu tepat.Bisa saja dibuat bangunan permanen, tetapi dengan konstruksi yang matang. “Tetapi hampir setiap Tahun kawasan ini dilanda gempa, lalu kenapa tidak dipikirkan untuk mendirikan bangunan yang terbuat dari kayu. Selain nyaman, dari sisi kesehatan juga lebih menguntungkan terhadap anak . Dulu, sekolah saya terbuat dari papan, tetapi kami sangat nyaman belajar di dalam ruangan,” ujarnya.

Menurut Pelajar Teladan di SMA 1001 ( sekarang SMA Negeri I Tarutung) itu, kondisi di Pahae pasca gempa bumi harus menjadi perhatian semua pihak .Kajian dan evaluasi secara khusus perlu dilakukan terutama dalam merencanakan pembangunan.Pembangunan sekolah, pemukiman dan sarana umum di Kawasan Pahae harus ditata ulang.Coba bayangkan, jika setiap tahun datang gempa, berapa kerugian yang dialami daerah, dan berapa manusia yang menjadi korban. Runtuhnya bangunan sekolah ini juga menjadi pelajaran berharga, kalaupun harus rusak kemungkinan tidak separah saat ini, bila kontruksinya matang dan bagus,” sebutnya.

Dalam kunjungan Sanggam ke Kecamatan Simangumban, Senin ( 25/5) bersama rombongan, dia meninjau lokasi terparah yang diakibatkan gempa, mulai dari rumah penduduk, mesjid, gereja dan infrastruktur yang ikut hancur. Selama 3 jam, calon kuat Kandidat Bupati Taput itu menyisir satu persatu lokasi bencana.”Inilah pekerjaan besar bagi semua pihak, bagaiman penanganan dan penaggulangan yang dilakukan untuk meringankan beban mereka”, ujarnya.

Masyarakat pun secara antusias menyambut kedatangannya. Tetapi sebelum melanjutkan peninjauan, Sanggam Hutapea telah menyerahkan bantuan kepada korban bencana berupa mie instant, gula dan beras yang diterima oleh petugas posko bencana. Sanggam sendiri tidak mau menonjolkan bantuan itu, “Yang saya pikirkan adalah yang lebih menyentuh untuk memulihkan kondisi Simangumban. Hasil tinjauan ini akan saya evaluasi,agar bantuan benar benar menyentuh, berbagai pihak juga akan kita dorong memberikan bantuan dan disalurkan tepat pada sasaran.Tujuan kita bukan seremoni, tetapi masyarakat yang menjadi korban adalah perhatian utama,bagaiman meringankan beban mereka” ujarnya kepada sejumlah wartawan media cetak dan elektronik.

Selain itu, Sanggam Hutapea juga berkesempatan bertemu dengan tokoh dan pemuka agama Kristen dan Islam di daerah ini. Yang paling memilukan hati Sanggam adalah saat meninjau rumah penduduk yang rongsok di pinggir Jalan Negara Simangumban-Sipirok. Di GKPA Simajambu,Mesjid Nurul Hasanah,HKBP Simangumban yang mengalami rusak berat berkali kali sosok dermawan ini , mengusap keringatnya saat berbicara dengan pemilik rumah ,ustad dan pendeta.

Dalam peninjauan ini,Sanggam didampingi personil Sanggam Hutapea Center, simpatisan Sanggam dari empat kecamatan di wilayah Pahae. Sementara dilokasi bencana, dia disambut dan didampingi Danramil Pahae Jae, aparat dari kepolisian dan TNI.

Dalam perjalanan pulang ke Tarutung, Sanggam mengutarakan, ada sesuatu yang harus segera dilakukan di Simangumban untuk memulihkan keadaan. Masyarakat, selain kehilangan tempat tinggal, pemulihan aktivitas ekonomi juga harus segera dipikirkan, termasuk memulihkan sarana dan prasarana umum terutama kesehatan dan pendidikan”, ujarnya. (jps).

Tarutung, 28 Mei 2008

Jan Pieter Simorangkir

0 komentar: