Minggu, 25 Mei 2008

Sanggam Hutapea Diminta Perhatikan Siborongborong

Sanggam Hutapea Diminta Perhatikan Siborongborong

SHC Berikan Ternak Induk

TAPUT-

Warga Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara meminta Ir Sanggam Hutapea MM memperhatikan daerah mereka. Pasalnya saat ini peternak di Siborongborong menghadapi masa sulit dengan datangnya penyakit yang menyerang ternak secara tiba-tiba. Belakangan, ditemukan sekitar 15-20 ekor ternak babi milik penduduk setempat mati mendadak akibat penyakit yang belum diketahui penyebabnya.

Selain itu, sebagian besar peternak babi dan kerbau memilih mundur akibat tidak seimbangnya jumlah ternak dengan pakan ternak yang tersedia. Sulitnya perolehan pakan ternak juga diikuti dengan harga yang semakin mahal.

Kondisi ini diungkapkan St Jaunggal Tampubolon kepada Ir Sanggam Hutapea MM di Sopo Maria Siborongborong, Sabtu (26/4), pada Bakti Sosial Pertanian dan Peternakan yang dilaksanakan Sanggam Hutapea Center (SHC). Acara itu sendiri diikuti sekitar 1.500 masyarakat petani dari Kecamatan Pagaran dan Siborongborong, Taput.

Berbagai permasalahan yang dihadapi petani saat ini, juga terungkap dalam pertemuan tersebut. Akan tetapi inti pertemuan itu, masyarakat meminta Ir Sanggam Hutapea MM memberikan perhatian serius untuk mengembangkan pembangunan perekonomian di Siborongborong.

Menjawab permintaan dan keluhan warga Siborongborong, Sanggam Hutapea akan mengupayakan menurunkan ahli ternak dan juga tanaman kopi ke Siborongborong. Akan tetapi, Sanggam Hutapea kepada ribuan petani yang hadir mengingatkan, SHC bukanlah sebuah lembaga yang dapat melakukan apa saja untuk menangani semua permasalahan. Namun sebagian dari kendala yang dihadapi masyarakat saat ini kemungkinan dapat ditangani.

Sanggam Hutapea saat mempresentasikan tujuan berdirinya SHC, di mana puluhan intelektual dari berbagai displin ilmu bergabung di dalamnya, menegaskan orientasi pendiriannya adalah untuk memajukan Taput.

“Untuk memenuhi panggilan jiwa membangun Taput, saya membutuhkan pemikir profesional dan teruji. Mereka banyak membantu saya, bahkan beberapa person memberikan donasinya sebagai dukungan terhadap langkah SHC,” ungkapnya.

Di bagian lain, dia menyebut meminimalkan pengangguran adalah mendorong pembangunan industri sebagai upaya membuka peluang penyerapan tenaga kerja.

“Munculnya industri akan berdampak pada peningkatan ekonomi rakyat yang lebih dinamis, dan tumbuhnya kawasan kawasan ekonomi baru,” sebutnya.

Sanggam sendiri mengutarakan dia bersama anak rantau peduli pembangunan di Bonapasogit yang bergabung di SHC melakukan diskusi menyusun master plan Pembangunan Tapanuli Utara dengan pola pendekatan kepada pembangunan ekonomi kerakyatan.

“Pendidikan, kesehatan sangat hakiki dan tidak mungkin di kesampingkan. Tetapi jika sektor ekonomi rakyat terbangun dengan baik, rakyat dapat keluar dari kedua permasalahan tersebut,” ujarnya.

Hal-hal mendasar menyangkut kehidupan petani dan pengusaha kecil ikut dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Sanggam sendiri juga menyoroti beberapa hal seperti baju dinas pegawai dan anak sekolah yang selama ini masih didatangkan dari luar. Dia berjanji, bersama koneksi bisnisnya di Jakarta akan menjajaki kemungkinan mendirikan industri konveksi di Taput untuk memenuhi kebutuhan baju-baju dinas yang dibutuhkan lokal.

Romantisme kedaerahan menurut Sanggam juga masih patut dipertahankan.

“Contohnya ada petenun ulos. Bisa saja bahan pakaian untuk PNS dapat dipadupadankan dengan ulos. Petenun ulos pun akan hidup dan berkembang, mata rantai ekonomi akan terbangun,” sebut Sanggam.

Lebih lanjut dikatakan, pasar produk komoditas pertanian perlu dipikirkan ke depan. Seluruh pemangku amanah terkait peningkatan ekonomi rakyat harus berjibaku.

“Tanya apa yang dibutuhkan pasar, lalu sampaikan ke masyarakat dan dorong untuk mengembangkan jenis komoditas yang diminati pasar. Selanjutnya jaminan keberlanjutan pasar itu juga harus dikawal. Bahan baku benang yang dibutuhkan perajin tenun yang kadang kadang hilang juga harus dipikirkan. Para petenun jangan dibiarkan dengan kondisi itu, inilah yang harus disikapi,” bebernya.

“Membangun gedung bukan pekerjaan besar, tetapi membangun sektor-sektor yang masih tidur adalah pekerjaan besar. Mengundang investor dengan komitmen membangun tentu pekerjaan yang harus diupayakan pemangku amanah,” tambahnya.

Diutarakan Sanggam, melihat tanaman holtikultura Siborongborong punya prospek untuk dikembangkan, dia akan mengusahakan mengirim petani ke Berastagi untuk belajar/studi banding tentang pertanian yang lebih profesional khususnya tanaman holtikultura.

Turunnya ahli ternak ini juga bisa bekerja untuk mengkaji kemungkinan kotoran ternak dijadikan bahan biogas. Di mana dapat dipakai untuk memasak dan untuk kebutuhan lain. Ahli akan membuat percontohan, warga akan memahami dan terdorong melakukan itu.

Hampir dua jam Ir Sanggam Hutapea memberikan paparan tentang pengembangan perekonomian masyarakat yang mungkin dapat dilakukan. Konsep dorongan untuk mendongkrak sektor-sektor yang belum digarap secara maksimal juga diutarakan pria alumnus SMA Negeri Tarutung itu. Namun, dia memuji bahwa etos kerja masyarakat dua kecamatan ini sangat bagus.

Menjawab pertanyaan masyarakat soal pemasaran yang menjadi kendala utama, dia mengatakan mandeknya pemasaran merupakan kondisi buruk dalam memacu semangat petani. Misalkan cabai, sebenarnya permintaan sangat tinggi di pasar nasional.

“Untuk memperluas akses pemasaran, kerja sama dengan Indofood bisa saja dilakukan. Pasar yang tidak jelas harus dihindari,” jelasnya. Dengan demikian perluasan area pemasaran menjadi sangat penting.

Sanggam Hutapea dalam pertemuan dengan warga dari dua kecamatan tersebut didampingi DR Sabam Malau, seorang anak rantau tamatan Institut Pertanian Bogor dan meraih strata III dari Jerman. Saat ini Sabam berprofesi sebagai dosen di Universitas HKBP Nomensen.

Pengembangan Bandara Silangit

Terkait pengembangan Kabupaten Taput, khususnya Siborongborong, Bandara Silangit adalah aset yang harus ditingkatkan. Posisi bandara yang berada di jantung wilayah Tapanuli sangat ideal untul dikembangkan.

“Pesawat-pesawat berbadan besar (boeing) harus bisa mendarat di Bandara Silangit. Dampaknya, perantau dan investor akan datang langsung ke Bonapasogit dari Jakarta dan daerah luar lainnya. Peluang pemasaran produk unggulan petani di Taput juga akan terbuka lebar. Oleh karena itu pengembangan kawasan Silangit akan tetap kita dorong. Suatu saat, kita akan dorong ke DPR dan menteri,” ujar Sanggam.

Rakyat Jangan Dibebani

Ir Sanggam Hutapea dalam pertemuan itu sempat gelisah dan seakan ingin berontak. Kegelisahan itu muncul saat Berman Pasaribu yang berdomisili di Bahal Batu mengungkapkan, untuk memeroleh pupuk bersubsidi dari penyalur yang ada di Kota Siborongborong saja, diharuskan mempunyai KTP. Padahal mengurus KTP saat ini sulit sekali akibat himpitan ekonomi.

“Banyak orang tua di kampung saya sangat sulit mengurus KTP, karena terkendala di biaya pengurusan. Tolong pak, mohon kami dibantu,” ujar Berman Pasaribu.

Mendengar keluhan ini, Sanggam menyebutkan masalah pupuk sebenarnya masalah nasional.Akan tetapi dirinya sangat tidak setuju jika perolehan pupuk bersubsidi harus menunjukkan KTP.

“Ini negara merdeka, saya protes kalau yang satu ini. Sebab selain masyarakat diperhadapkan dengan sulitnya mengurus KTP, kenapa mereka justru dipersulit untuk memeroleh pupuk bersubsidi? Jangan lagi dibebani rakyat,” ujarnya dengan nada tinggi.

Proyek Daerah

Sebelumnya, beberapa warga juga mengungkapkan bahwa hanya sebagian kecil saja dari mereka yang saat ini mempunyai sertifikat tanah.

Menanggapi itu, Sanggam mengatakan, “Inilah salahsatu kegelisahan, termasuk seringnya konflik akibat warisan. Bila penting dilakukan proyek daerah (Proda) tanpa mengesampingkan prona (proyek nasional). Tidak saatnya lagi masyarakat hidup dalam ‘zona kabur’, sertifikasi kepemilikan tanah harus jelas.”

Pada kesempatan tersebut, Sanggam Hutapea Center memberikan bantuan ternak induk kepada kelompok tani di Kecamatan Siborong-borong masing-masing Lobu Siregar, Kelurahan, Pakkarapan, Sitampurung, Lumban Tongatonga, Paniaran. Sementara kelompok tani dari Kecamatan Pagaran, masing masing Simamora Hasibuan, Sipultak, Parhorboan I, dan Parhorboan II.

“Ini bukan sumbangan, tetapi lebih ideal disebut kewajiban dari sebuah panggilan jiwa membantu saudara-saudara di Bonapasogit,” ujar Sanggam kepada puluhan wartawan.

Sekedar informasi, dihampir setiap pertemuan dengan masyarakat, Sanggam Hutapea selalu mengikutkan para pakar dari berbagai displin ilmu.

Kesan yang bisa ditarik masyarakat yang menghadiri pertemuan dengan Sanggam seakan terinspirasi dengan ucapan-ucapan Sanggam. Masyarakat yang hadir terlihat tekun dan sabar mengikuti kegiatan hingga di penghujung acara.

Penilaian lain, Sanggam Hutapea kemungkinan ingin mempertegas bahwa dia tidak main-main melangkah untuk membangun Taput ke arah yang lebih maju.

Sanggam Hutapea kepada wartawan mengatakan, dirinya bukan bermaksud show dengan memboyong para intelektual ke Taput.

“Saya harus mempertegas keinginan untuk memajukan daerah ini harus didukung potensi sumber daya manusia. Untuk apa kita bicara soal pembangunan, jika ahlinya saja tidak pernah turun ke lapangan. Metode seperti ini sudah biasa saya lakukan dalam pengembangan wilayah di dibeberapa daerah di Indonesia,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Sanggam Hutapea Center memberikan bantuan ternak induk kepada kelompok tani di Kecamatan Siborong-borong, masing-masing Lobu Siregar, Kelurahan, Pakkarapan, Sitampurung, Lumban Tonga-tonga, Paniaran. Sementara kelompok tani dari Kecamatan Pagaran masing masing Simamora Hasibuan, Sipultak, Parhorboan I dan Parhorboan II.

“Ini bukan sumbangan, tetapi lebih ideal disebut kewajiban dari sebuah panggilan jiwa membantu saudara saudara di Bonapasogit,” kata Sanggam kepada puluhan wartawan. (jps)

Pengirim :

Jan Pieter Simorangkir

0 komentar: